Kesehatan

Perbedaan Buta Warna Parsial dan Total Serta Cara Membedakannya

Perbedaan Buta Warna Parsial dan Total Serta Cara Membedakannya

Kelainan pada indra penglihatan ada banyak ragamnya. Salah satu yang sering dibicarakan adalah buta warna. Tes buta warna kerap dilakukan saat penerimaan pelajar, mahasiswa atau pekerja yang melamar ke jurusan atau lowongan dengan kebutuhan kepekaan warna tinggi misalnya di jurusan farmasi, kimia, kedokteran dan sebagainya. Seseorang yang terbukti buta warna bisa kehilangan banyak kesempatan terjun ke dunia tersebut. Namun ternyata, buta warna sendiri ada dua kategori yaitu buta warna total dan parsial dimana keduanya memiliki perbedaan mendasar dan penderita buta warna parsial masih bisa mengenali warna-warna tertentu.

Apa pengertian dari buta warna total dan parsial? Buta warna sendiri merupakan kondisi dimana mata tidak bisa membedakan warna baik sebagian maupun keseluruhan. Mata memiliki sel pigmen yang tugasnya untuk membedakan tiga warna utama yaitu merah, hijau dan biru. Pada penderita buta warna, beberapa jenis pigmen atau keseluruhannya mengalami kerusakan sehingga tidak bisa membedakan warna. Hal ini bisa terjadi karena gen yang diturunkan oleh orang tua atau juga sebab lain yang tidak berasal dari keturunan seperti penderita diabetes, akibat kecelakaan, atau pengaruh obat.

Pada penderita buta warna total. Penderita tidak bisa membedakan sebagian besar warna-warna bahkan hanya melihat dunia dengan warna putih, abu-abu dan hitam saja. Meski begitu mereka tetap bisa melihat dengan normal serta membaca dan menulis dengan baik. Sedangkan bagi penderita buta warna sebagian atau parsial yang merupakan jenis buta warna yang lebih banyak diderita masyarakat dunia, penderita akan kesulitan mengenali warna-warna tertentu saja yang dibedakan menjadi:

  • Buta warna merah hijau.

Gejala buta warna parsial yang dialami oleh masing-masing penderita bisa berbeda-beda meski berada pada kategori yang sama. Seperti pada type buta warna merah hijau ini, ada beberapa gejala yang bisa terjadi pada masing-masing penderitanya, seperti:

  1. Warna hijau dan kuning terlihat lebih merah.
  2. Merah, kuning dan orange terlihat seperti hijau.
  3. Hijau terlihat seperti krem.
  4. Merah terlihat seperti kuning coklat.
  • Buta warna kuning biru.

Penderitanya bisa memiliki gejala seperti berikut:

  1. Biru terlihat hijau.
  2. Kuning seperti ungu terang atau abu-abu.
  3. Sulit membedakan merah muda dan kuning.

Banyaknya jenis buta warna seperti yang tersebut di atas, membuat test buta warna sangat diperlukan. Hal ini terutama diperuntukkan untuk mereka yang ingin memperoleh bidang pekerjaan atau profesi tertentu. Bagi penderita buta warna sendiri, bisa jadi mereka tidak menyadarinya karena telah beradaptasi dengan kondisi mata sejak kecil. Misalnya seseorang mengalami buta warna merah hijau, melihat bunga berwarna merah seperti kehijauan namun tidak mengetahui bahwa sebenarnya bunga tersebut berwarna merah. Dengan pemeriksaan yang benar, dapat diketahui cara penanggulangannya sehingga bisa meminimalisir resiko. Cara pemeriksaan test buta warna dilakukan dengan 2 metode yaitu test ishihara dengan menuliskan angka-angka memakai titik-titik warna dan test penyusunan titik warna sesuai dengan tingkat gradasinya.

Meski memiliki kondisi buta warna parsial maupun buta warna total, seseorang bisa tetap melakukan aktivitasnya dengan baik dan normal apalagi jika sudah melakukan terapi sehingga mereka bisa menyesuaikan diri dengan kondisi dan warna-warna yang sebenarnya. Dengan begitu mereka bisa menerka apa yang orang lain lihat dan menjalankannya dibandingkan dengan apa yang ia lihat. Buta warna bisa diturunkan melalui genetik sehingga bagi Anda yang buta warna, segeralah memeriksakan anak sedari dini.